BAB
I
PENDAHULUAN
11.1 Latar Belakang
Pusat
Sumber Belajar (PSB) merupakan pemusatan secara terpadu berbagai sumber belajar
yang meliputi orang, bahan, peralatan, fasilitas lingkungan, tujuan dan proses.
Secara umum Pusat Sumber Belajar berisi komponen-komponen perpustakaan,
pelayanan audio-visual, peralatan dan produksi, tempat berlatih mengembangkan
kegiatan program instruksional dan tempat mengembangkan alat-alat bantu dalam
pengembangan sistem instruksional. Dalam kenyatannya, Pusat Sumber Belajar yang
ideal masih sulit ditemui, terlebih di kota-kota kecil, bahkan Pusat Sumber
Belajar ini pun masih langka ditemukan
pada lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Sumber belajar yang jelas dapat
dilihat masih dalam bentuk perpustakaan yang pada dasarnya merupakan salah satu
komponen Pusat Sumber Belajar itu sendiri. Namun demikian pengelolaan dan
organisasi yang baik akan memberikan tujuan-tujuan lembaga yang optimal pula.
Sebuah organisasi atau lembaga termasuk
perpustakaan dikatakan berhasil, apabila kualitas pelayanan yang diberikan
kepada pemakainya telah memperoleh pengakuan dari masyarakat yang dilayaninya.
Kualitas tersebut dapat dicapai oleh sebuah perpustakaan termasuk perpustakaan khusus, dengan prestasi dan kinerja yang maksimal. Apabila perpustakaan khusus mampu memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas kepada masyarakat di
lingkungannya, maka secara tidak langsung hal itu merupakan wujud kinerja
pengelola perpustakaannya yang berkualitas.
Dengan adanya kinerja pustakawan perpustakaan
khusus yang berkualitas dalam
melayani pemakai, maka tujuan yang telah ditetapkan oleh perpusakaan akan
tercapai. Semakin baik dalam melayani pemakai, semakin tinggi penghargaan yang
akan diberikan kepada perpustakaan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut hendaknya
perpustakaan memiliki pustakawan yang berkualitas dan cepat tanggap dengan
kebutuhan pemustakanya. Ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa, library
is librarian, disini terkandung makna bahwa perpustakaan bukan lagi
merupakan tempat atau aspek fisik saja, tetapi lebih merupakan aktivitas yang
dimotori oleh pustakwannya dalam mengembangkan perpustakaan.
11.2 Tujuan Penulisan
Berdasarkan
penjabaran diatas bahwasanya tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk
memudahkan pembaca dalam mengetahui dan mengenal Pengembangan Pusat Sumber
Belajar di Perpustakaan khususnya dalam Pengembangan Sumberdaya Manusia. Selain
itu dibuat untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Pusat Sumber
Belajar.
BAB
II
PEMBAHASAN
22.1 Sejarah Singkat Balai Kebun Raya
Purwodadi
IDENTITAS PUSAT SUMBER
BELAJAR
Nama Instansi : UPT Balai Konservasi
Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jenis : Lembaga Konservasi
Kepemilikan : Pemerintah
Alamat : Jl. Surabaya- Malang,
Km 65. Purwodadi Pasuruan
Balai Kebun Raya Purwodadi didirikan
atas prakarsa Dr. D.F. Van Slooten pada
tanggal 30 Januari 1941 sebgai pemekaran dari Stasiun Percobaan S’Lands Plantentuin Buitenzorg atau
kebun Raya Bogor. Mula- mula kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian
tanaman perkebunan. Kemudian pada tahun 1954 mulai diterapkan dasar-dasar
per-kebunraya-an yaitu dengan dimulainya pembuatan petak- petak tanaman
koleksi.
Sejak tahun 1980 sebagai tanaman ditata
kembali menurut kelompok suku yang menganut klasifikasi sistem Engler dan
Pranti. Dalam perkembangan diharapkan Cabang Balai kebun Raya Purwodadi akan
menjadi pusat konservasi dan penelitian
tumbuhan iklim kering di daerah tropis. Kebun Raya Purwodadi merupakan
Unit Pelaksanaan Teknis yang bernaung dibawah dan tanggung jawab kepala Deputi
Ketua LIPI Bidang IPA. Sesuai dengan penjabaran diatas bahwasanya Kebun Raya
Purwodadi merupakan tanggung jawab dari Unit Pelaksana Teknis dan bahwasanya
Kebun Raya Purwodadi merupakan Lembaga yang dikelolah oleh Lembaga
Pemerintahan.
Balai
Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
sebuah lembaga pemerintah. Balai Konservasi terletak di Jalan Surabaya- Malang
Km 65 Purwodadi Pasuruan, terletak di desa Purwodadi, kecamatan Purwodadi,
kabupaten Pasuruan, Balai Konservasi ini terletak di tepi jalan besar yang
menghubungkan 3 kota besar yaitu Malang, Surabaya, Pasuruan.
22.2 Deskripsi Aktivitas
Kegiatan yang sering dilakukan oleh Balai Konservasi
Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi LIPI adalah bersifat tentatif kegiatan seperti
Seminar, Lomba, Diskusi, Sarahsehan kegiatan itu akan dilakukan apabila ada
permintaan dari pengunjung atau langsung dari atasan. Jadi UPT BKT sebenarnya
tidak terikat dalam kegiatan tahunan, atau masuk dalam program kerja selama
satu tahun. Tetapi walaupun tidak memiliki program kerja yang mengikat
sebenarnya UPT BKT memiliki beberapa kegiatan rutin tiap hari, yakni:
a. Kegiatan
Pembelajaran Panduan Ilmiah
Yaitu
siswa dikumpulkan dan diberi penjelasan umum tentang Kebun Raya Purwodadi.
Dalam kegiatan tersebut siswa dibagi menjadi beberapa kelompok maksimal 30
orang perkelompok. Dalam kegiatan tersebut setiap kelompok akan didampingi oleh
satu pembina yang akan mendampingi mereka selama melakukan kegiatan
pembelajaran dengan tarif per-rombongan sebesar Rp.40.000 (Tingkat SD, SMP,
SMA), sedangkan tingkat mahasiswa per-rombongannya dikenakan Rp.50.000 dengan
durasi 1 jam saja.
b. Paket
Pendidikan Lingkungan Tematik
Yaitu kegiatan
pembelajaranyang dilakukan berdasarkan permintaan pengunjung, jadi mereka akan
melakukan kegiatan pembelajaran berdasarkan tema yang telah dipilih oleh
masing-masing kelompok (sekolah), kemudian pihakBalai Konservasi-LIPI menyediakan
dan menfasilitasi mereka dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan
didampingi pembina rombongan dan dengan tarif yang telah ditentukan.Tarif yang
dikenakan per-rombongan sebesar Rp.40.000 (Tingkat SD, SMP, SMA), sedangkan
tingkat mahasiswa per-rombongannya dikenakan Rp.50.000 bisa ditambah jam dengan
menambah biaya tambahan pula.
Selain kegiatan yang bersifat
kelompok,Balai Konservasi LIPI juga melakukan kegiatanyang bersifat individu
yaitu Study Literasi. Study Literasi merupakan kegiatan yang
dilakukan Balai Konservasi-LIPI untuk melakukan kunjungan ke Perpustakaan,
selain kunjungan ke Perpustakaan pengunjung juga dapat berkeliling kebun Raya
Purwodadi untuk melihat museum biji, pusat perkembangan tunbuhan, dll. Dalam
kegiatan ini pengunjung tidak didampingi oleh pembina tetapi pengunjung dapat
langsung mencari informasi yang dibutuhkan lewat perpustakaan.
22.3 Keunggulan Perpustakaan LIPI
1. Menerima
berbagai pengunjung dari berbagai kalangan.
Lembaga Penelitian ini
menerima dan memperbolehkan siapapun, baik itu peneliti atau masyarakat umum
untuk mengunjungi, atau sekedar ingin tahu saja
2. Memiliki
SDM yang kompeten
LIPI merupakan lembaga
pemerintah, untuk dapat menjadi karyawan atau staf dari lembaga ini harus
melalui tahapan tes yang diujikan langsung dari pemerintah, jadi SDM yang ada
di lembaga ini cukup kompeten di bidang masing - masing
3. Pelayanan
bimbingan literasi yang maksimal
Para peneliti yang
membutuhkan informasi dari bahan pustaka untuk kepentingan riset akan dilayani
dan dibimbing untuk mendapatkan bahan yang dicari, serta memberikan rekomendasi
– rekomendasi sebagai altenatif bahan pustaka.
22.4 Kelemahan Perpustakaan LIPI
1. Kurangnya
tenaga pustakawan
Hal ini membuat
pustakawan tunggal yang bertugas bekerja ekstra jika ada pengunjung atau peneliti
yang membutuhkan pembelajaran intensif
2. Koleksi
di rak kurang tertata
Koleksi di atas rak
buku kurang tertata rapi, hal ini menyebabkan pemandangan terkesan berantakan
dan kurang terawat
3. Kurangnya
promosi untuk perpustakaan LIPI
Perpustakaan LIPI mempunyai
website dan akun sosial media sebagai sarana promosi, namun kelemahannya jarang
di update dan hampir tidak ada informasi kegiatan yang di post di media sosial
22.5 Pengembangan Sumber Daya Manusia
Profesi
pustakawan merupakan profesi yang belum populer dikalangan masyarakat kita,
masih kalah populer dengan profesi insinyur, pengacara, bahkan artis
sekalipun. Pilihan profesi pustakawan biasanya merupakan pilihan alternatif, dan tenaga pustakawan dipandang sebelah mata, tenaga
pustakawan merupakan orang buangan. Hal itu semua menjadi penyebab buruknya
citra terhadap profesi pustakawan. Walaupun yang telah kita ketahui, bahwa
tenaga pustakawan merupakan jabatan karir dan jabatan fungsional yang
telah diakui oleh pemerintah dengan terbitnya surat MENPAN nomor 132 tahun
2002.
Dengan melihat permasalahan
tersebut di atas mau tidak mau perpustakaan khusus harus membekali tenaga pustakawannya untuk dapat bersikap profesional
dalam memberikan pelayanannya. Dalam melakukan pelayanan kepada pemustaka, pustakawan
harus membuat pemustaka merasa diistimewakan dan merasa penting karena dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pemustaka harus
berorientasi kepada kepentingan pemustaka. Upaya dalam memberikan pelayanan yang terbaik dapat diwujudkan apabila
pustakawan dapat menonjolkan kemampuan sikap, penampilan, perhatian dan
tindakan, juga tanggungjawab yang baik. Dalam meningkatkan kinerja dan kualitas
layanan pustakawan dituntut bersikap profesional. Sikap profesionalisme
tenaga pustakawan yang perlu diperhatikan adalah kepribadian pustakawan,
kompetensi pustakawan, dan kecakapan pustakawan. Melihat kebutuhan
tersebut, tuntutan bagi pustakawan adalah menjadi tenaga
pustakawan ideal.
Penanganan perpustakaan khusus
memerlukan seorang “ahli” dalam bidang/subyek yang ditangani. Hal ini akan
mempermudah perpustakaan dalam memberikan apa yang menjadi tuntutan dan
kebutuhan pemakainya. Untuk itu biasanya dalam perpustakaan khusus ini
dibutuhkan seorang pustakawan yang mengerti dan paham akan bidang kerja/bidang
yang ditangani oleh lembaga induknya. Sehingga kebutuhan akan “pustakawan
khusus” adalah penting.
Perpustakaan yang baik memiliki
pustakawan yang berkualitas dan profesionalisme dalam bidang yang ditekuninya. Dalam
menjalankan fungsi dan melakukan pelayanan kepada pemustaka perpustakaan LIPI
dikelolah oleh seorang pustakawan. Saat ini perpustakaan hanya memiliki seorang
pustakawan. Untuk menjalankan tugasnya yaitu sebagai kepala dan petugas jelas
hal itu tidak dapat dilakukan seorang diri. Selain itu layanan yang menuntut
pustakawan untuk membimbing, membina, dan melakukan pengajaran jelas hal ini
tidak dapat dilakukan.
Pengembangan pustakawan ke depan
diharapkan dapat menjadikan pustakawan itu tidak hanya sebagai pustakawan biasa
saja namun mempunyai fungsi sebagai information mediator, information expert, dan information manager . Sebagai information
mediator, pustakawan diharapkan sebagai penghubung antara peminta informasi
(user) dengan sumber-sumber informasi, serta membantu pengguna dalam temu
kembali informasi. Sebagai information expert, pustakawan
diharapkan mampu berinteraksi dengan teknisi informasi seperti programmer dan web
designer di dalam pengembanganinformasi. Dia juga harus mengenal semua
aspek-aspek informasi. Akhirnya, sebagai information manager,
pustakawan harus mengenal berbagai macam pengelolaan bisnis yang berhubungan
dengan perpustakaan.
Pengembangan Sumberdaya Manusia yang dapat
dilakukan yaitu berupa:
1.
Perlunya pendidikan bagi teknisi
perpustakaan (fungsional keterampilan/asisten pustakawan), dan tenaga profesional
perpustakaan (fungsional keahlian/pustakawan),
2.
Pengembangan prefesi kepustakawanan deugan
menghadiri seminar, diskusi ilmiah, lokakarya, membuat karya tulis, dan sejenisnya,
3.
Pelatihan penguasaan teknologi informasi,
4.
Penambahan tenaga Pustakawan untuk
meningkatkan pelayanan perpustakaan secara prima
Dari uraian
di atas dapat dikatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia perpustakaan
sangat perlu dilakukan dengan melakukan pola pembinaan SDM yang berkelanjutan
mengenai pengetahuan dan keterampilan di bidang perpustakaan dan teknologi
informasi.
Sesungguhnya
dunia perpustakaan sangat erat dengan bidang lain seperti informasi dan
komputer, sehingga seringkali kita mendengar kedua istilah itu digabung menjadi
perpustakaan dan informasi. Untuk itu, maka para pustakawan sudah saatnya untuk
mengetahui bidang-bidang lain tersebut selain bidang perpustakaan. Dengan
melakukan hal itu diharapkan keprofesionalisme pustakawan menjadi lebih
meningkat.
BAB II
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan penjabaran diatas
bahwasanya pengembangan sumber daya
manusia perpustakaan sangat perlu dilakukan dengan melakukan pola pembinaan SDM
yang berkelanjutan mengenai pengetahuan dan keterampilan di bidang perpustakaan
dan teknologi informasi.
Sesungguhnya
dunia perpustakaan sangat erat dengan bidang lain seperti informasi dan
komputer, sehingga seringkali kita mendengar kedua istilah itu digabung menjadi
perpustakaan dan informasi. Untuk itu, maka para pustakawan sudah saatnya untuk
mengetahui bidang-bidang lain tersebut selain bidang perpustakaan. Dengan
melakukan hal itu diharapkan keprofesionalisme pustakawan menjadi lebih
meningkat.
Lampiran





terimakasih atas informasinya mengenai pengembangan sumber daya manusia di kebun raya purwodadi, pustakawan sebagi manajer informasi tentu mereka harus mengetahui bahan pustaka yang cocok di perpustakaan tersebut, menurut anda apa skil yang paling penting yang perlu dimiiki pustakawandalam pencarian bahan pustaka, terutama di perpustakaan purwodadi?
BalasHapusterimakasih telah mengunjungi blog ini,
Hapusbahan pustaka yang cocok untuk perpustakaan LIPI yaitu disesuaikan dengan karakteristik dari perpustakaannya, karena perpustakaan LIPI adalah perpustakan khusus yang bergerak dibidang konservasi tumbuhan maka yang dibutuhkan adalah bahan pustaka yang berhubungan dengan tumbuhan, skill yang dibutuhkan oleh pustakawan adalah pemahaman tentang literasi dan cara memanfaatkan literasi tersebut
Terimakasih infonya,
BalasHapusMengenai promosi tidak hanya dilakukan website dan akun sosial media sebagai sarana promosi, tetapi dapat juga melalui brosur dsb dan melakukan promosi kelembaga lain.,
terimakasi mbak riski atas komentarnya, memang benar maka dari itu untum meningkatkan promosi tersebut yang harus dilakukan oleh Perpustakaan LIPI adalah dengan cara efektif dan sesering mungkin untuk memberikan informasi kepada penggunanya
Hapusthanks infonya..
BalasHapusmenurut pendapat anda untuk sumber daya manusia pilihan alternatif ialah pustakawan apakah pustakawan harus mempunya skill di bidang penelitian? atau mungkinkan dari seorang peneliti jadi pustakawan?
terimakasih mbah mai telah mengunjungi blog ini, skill dibidang oenelitian sangat penting bagi pustakawan, karena pustakawan bukan hanya penyedia dan membantu peneliti tetapi pustakawan juga dituntut untuk mampu membuat penelitian agar dapat meningkatkan kinerjanya
Hapus