Jumat, 05 Desember 2014

PENGEMBANGAN SUMBERDAYA MANUSIA UNTUK MENINGKATKAN PELAYANAN DI UPT BALAI KONSERVASI TUMBUHAN KEBUN RAYA PURWODADI LEMBAGA ILMU PENGETAHUAN INDONESIA

BAB I
PENDAHULUAN

11.1  Latar Belakang
Pusat Sumber Belajar (PSB) merupakan pemusatan secara terpadu berbagai sumber belajar yang meliputi orang, bahan, peralatan, fasilitas lingkungan, tujuan dan proses. Secara umum Pusat Sumber Belajar berisi komponen-komponen perpustakaan, pelayanan audio-visual, peralatan dan produksi, tempat berlatih mengembangkan kegiatan program instruksional dan tempat mengembangkan alat-alat bantu dalam pengembangan sistem instruksional. Dalam kenyatannya, Pusat Sumber Belajar yang ideal masih sulit ditemui, terlebih di kota-kota kecil, bahkan Pusat Sumber Belajar  ini pun masih langka ditemukan pada lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Sumber belajar yang jelas dapat dilihat masih dalam bentuk perpustakaan yang pada dasarnya merupakan salah satu komponen Pusat Sumber Belajar itu sendiri. Namun demikian pengelolaan dan organisasi yang baik akan memberikan tujuan-tujuan lembaga yang optimal pula.

Sebuah organisasi atau lembaga termasuk perpustakaan dikatakan berhasil, apabila kualitas pelayanan yang diberikan kepada pemakainya telah memperoleh pengakuan dari masyarakat yang dilayaninya. Kualitas tersebut dapat dicapai oleh sebuah perpustakaan termasuk perpustakaan khusus, dengan prestasi dan kinerja yang maksimal. Apabila perpustakaan khusus mampu memberikan pelayanan yang baik dan berkualitas kepada masyarakat di lingkungannya, maka secara tidak langsung hal itu merupakan wujud kinerja pengelola perpustakaannya yang berkualitas.
Dengan adanya kinerja pustakawan perpustakaan khusus yang berkualitas dalam melayani pemakai, maka tujuan yang telah ditetapkan oleh perpusakaan akan tercapai. Semakin baik dalam melayani pemakai, semakin tinggi penghargaan yang akan diberikan kepada perpustakaan. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut hendaknya perpustakaan memiliki pustakawan yang berkualitas dan cepat tanggap dengan kebutuhan pemustakanya. Ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa, library is librarian, disini terkandung makna bahwa perpustakaan bukan lagi merupakan tempat atau aspek fisik saja, tetapi lebih merupakan aktivitas yang dimotori oleh pustakwannya dalam mengembangkan perpustakaan.


11.2  Tujuan Penulisan
Berdasarkan penjabaran diatas bahwasanya tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memudahkan pembaca dalam mengetahui dan mengenal Pengembangan Pusat Sumber Belajar di Perpustakaan khususnya dalam Pengembangan Sumberdaya Manusia. Selain itu dibuat untuk memenuhi tugas terstruktur pada mata kuliah Pusat Sumber Belajar.




BAB II
PEMBAHASAN

22.1  Sejarah Singkat Balai Kebun Raya Purwodadi
IDENTITAS PUSAT SUMBER BELAJAR
Nama Instansi : UPT Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia
Jenis                : Lembaga Konservasi
Kepemilikan    : Pemerintah
Alamat                        : Jl. Surabaya- Malang, Km 65. Purwodadi Pasuruan

Balai Kebun Raya Purwodadi didirikan atas prakarsa  Dr. D.F. Van Slooten pada tanggal 30 Januari 1941 sebgai pemekaran dari Stasiun Percobaan S’Lands Plantentuin Buitenzorg atau kebun Raya Bogor. Mula- mula kebun ini dipergunakan untuk kegiatan penelitian tanaman perkebunan. Kemudian pada tahun 1954 mulai diterapkan dasar-dasar per-kebunraya-an yaitu dengan dimulainya pembuatan petak- petak tanaman koleksi.
Sejak tahun 1980 sebagai tanaman ditata kembali menurut kelompok suku yang menganut klasifikasi sistem Engler dan Pranti. Dalam perkembangan diharapkan Cabang Balai kebun Raya Purwodadi akan menjadi pusat konservasi dan penelitian  tumbuhan iklim kering di daerah tropis. Kebun Raya Purwodadi merupakan Unit Pelaksanaan Teknis yang bernaung dibawah dan tanggung jawab kepala Deputi Ketua LIPI Bidang IPA. Sesuai dengan penjabaran diatas bahwasanya Kebun Raya Purwodadi merupakan tanggung jawab dari Unit Pelaksana Teknis dan bahwasanya Kebun Raya Purwodadi merupakan Lembaga yang dikelolah oleh Lembaga Pemerintahan.
Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia sebuah lembaga pemerintah. Balai Konservasi terletak di Jalan Surabaya- Malang Km 65 Purwodadi Pasuruan, terletak di desa Purwodadi, kecamatan Purwodadi, kabupaten Pasuruan, Balai Konservasi ini terletak di tepi jalan besar yang menghubungkan 3 kota besar yaitu Malang, Surabaya, Pasuruan.

22.2  Deskripsi Aktivitas
Kegiatan yang sering dilakukan oleh Balai Konservasi Tumbuhan Kebun Raya Purwodadi LIPI adalah bersifat tentatif kegiatan seperti Seminar, Lomba, Diskusi, Sarahsehan kegiatan itu akan dilakukan apabila ada permintaan dari pengunjung atau langsung dari atasan. Jadi UPT BKT sebenarnya tidak terikat dalam kegiatan tahunan, atau masuk dalam program kerja selama satu tahun. Tetapi walaupun tidak memiliki program kerja yang mengikat sebenarnya UPT BKT memiliki beberapa kegiatan rutin tiap hari, yakni:
a.       Kegiatan Pembelajaran Panduan Ilmiah
Yaitu siswa dikumpulkan dan diberi penjelasan umum tentang Kebun Raya Purwodadi. Dalam kegiatan tersebut siswa dibagi menjadi beberapa kelompok maksimal 30 orang perkelompok. Dalam kegiatan tersebut setiap kelompok akan didampingi oleh satu pembina yang akan mendampingi mereka selama melakukan kegiatan pembelajaran dengan tarif per-rombongan sebesar Rp.40.000 (Tingkat SD, SMP, SMA), sedangkan tingkat mahasiswa per-rombongannya dikenakan Rp.50.000 dengan durasi 1 jam saja.
b.      Paket Pendidikan Lingkungan Tematik
Yaitu kegiatan pembelajaranyang dilakukan berdasarkan permintaan pengunjung, jadi mereka akan melakukan kegiatan pembelajaran berdasarkan tema yang telah dipilih oleh masing-masing kelompok (sekolah), kemudian pihakBalai Konservasi-LIPI menyediakan dan menfasilitasi mereka dalam melakukan kegiatan pembelajaran dengan didampingi pembina rombongan dan dengan tarif yang telah ditentukan.Tarif yang dikenakan per-rombongan sebesar Rp.40.000 (Tingkat SD, SMP, SMA), sedangkan tingkat mahasiswa per-rombongannya dikenakan Rp.50.000 bisa ditambah jam dengan menambah biaya tambahan pula.
Selain kegiatan yang bersifat kelompok,Balai Konservasi LIPI juga melakukan kegiatanyang bersifat individu yaitu Study Literasi. Study Literasi merupakan kegiatan yang dilakukan Balai Konservasi-LIPI untuk melakukan kunjungan ke Perpustakaan, selain kunjungan ke Perpustakaan pengunjung juga dapat berkeliling kebun Raya Purwodadi untuk melihat museum biji, pusat perkembangan tunbuhan, dll. Dalam kegiatan ini pengunjung tidak didampingi oleh pembina tetapi pengunjung dapat langsung mencari informasi yang dibutuhkan lewat perpustakaan.
22.3  Keunggulan Perpustakaan LIPI
1.      Menerima berbagai pengunjung dari berbagai kalangan.
Lembaga Penelitian ini menerima dan memperbolehkan siapapun, baik itu peneliti atau masyarakat umum untuk mengunjungi, atau sekedar ingin tahu saja
2.      Memiliki SDM yang kompeten
LIPI merupakan lembaga pemerintah, untuk dapat menjadi karyawan atau staf dari lembaga ini harus melalui tahapan tes yang diujikan langsung dari pemerintah, jadi SDM yang ada di lembaga ini cukup kompeten di bidang masing - masing
3.      Pelayanan bimbingan literasi yang maksimal
Para peneliti yang membutuhkan informasi dari bahan pustaka untuk kepentingan riset akan dilayani dan dibimbing untuk mendapatkan bahan yang dicari, serta memberikan rekomendasi – rekomendasi sebagai altenatif bahan pustaka.

22.4  Kelemahan Perpustakaan LIPI
1.      Kurangnya tenaga pustakawan
Hal ini membuat pustakawan tunggal yang bertugas bekerja ekstra jika ada pengunjung atau peneliti yang membutuhkan pembelajaran intensif
2.      Koleksi di rak kurang tertata
Koleksi di atas rak buku kurang tertata rapi, hal ini menyebabkan pemandangan terkesan berantakan dan kurang terawat
3.      Kurangnya promosi untuk perpustakaan LIPI
Perpustakaan LIPI mempunyai website dan akun sosial media sebagai sarana promosi, namun kelemahannya jarang di update dan hampir tidak ada informasi kegiatan yang di post di media sosial

22.5  Pengembangan Sumber Daya Manusia
Profesi pustakawan merupakan profesi yang belum populer dikalangan masyarakat kita, masih kalah populer dengan profesi insinyur, pengacara,  bahkan artis sekalipun. Pilihan profesi pustakawan biasanya merupakan pilihan alternatif, dan tenaga pustakawan dipandang sebelah mata, tenaga pustakawan merupakan orang buangan. Hal itu semua menjadi penyebab buruknya citra terhadap profesi pustakawan. Walaupun yang telah kita ketahui, bahwa tenaga pustakawan merupakan  jabatan karir dan jabatan fungsional yang telah diakui oleh pemerintah dengan terbitnya surat MENPAN nomor 132 tahun 2002. 
Dengan melihat permasalahan tersebut di atas mau  tidak mau perpustakaan khusus harus membekali tenaga pustakawannya untuk dapat bersikap profesional dalam memberikan pelayanannya. Dalam melakukan pelayanan kepada pemustaka, pustakawan harus membuat pemustaka merasa diistimewakan dan merasa penting karena dalam memberikan pelayanan terbaik kepada pemustaka harus berorientasi kepada kepentingan pemustaka. Upaya dalam memberikan pelayanan yang terbaik dapat diwujudkan apabila pustakawan dapat menonjolkan kemampuan sikap, penampilan, perhatian dan tindakan, juga tanggungjawab yang baik. Dalam meningkatkan kinerja dan kualitas layanan pustakawan dituntut bersikap profesional. Sikap profesionalisme  tenaga pustakawan  yang perlu diperhatikan adalah kepribadian pustakawan, kompetensi pustakawan, dan kecakapan  pustakawan. Melihat kebutuhan tersebut, tuntutan bagi  pustakawan adalah  menjadi  tenaga pustakawan ideal.
Penanganan perpustakaan khusus memerlukan seorang “ahli” dalam bidang/subyek yang ditangani. Hal ini akan mempermudah perpustakaan dalam memberikan apa yang menjadi tuntutan dan kebutuhan pemakainya. Untuk itu biasanya dalam perpustakaan khusus ini dibutuhkan seorang pustakawan yang mengerti dan paham akan bidang kerja/bidang yang ditangani oleh lembaga induknya. Sehingga kebutuhan akan “pustakawan khusus” adalah penting.
Perpustakaan yang baik memiliki pustakawan yang berkualitas dan profesionalisme dalam bidang yang ditekuninya. Dalam menjalankan fungsi dan melakukan pelayanan kepada pemustaka perpustakaan LIPI dikelolah oleh seorang pustakawan. Saat ini perpustakaan hanya memiliki seorang pustakawan. Untuk menjalankan tugasnya yaitu sebagai kepala dan petugas jelas hal itu tidak dapat dilakukan seorang diri. Selain itu layanan yang menuntut pustakawan untuk membimbing, membina, dan melakukan pengajaran jelas hal ini tidak dapat dilakukan.
Pengembangan pustakawan ke depan diharapkan dapat menjadikan pustakawan itu tidak hanya sebagai pustakawan biasa saja namun mempunyai fungsi sebagai information mediator, information expert, dan  information manager . Sebagai information mediator, pustakawan diharapkan sebagai penghubung antara peminta informasi (user) dengan sumber-sumber informasi, serta membantu pengguna dalam temu kembali informasi. Sebagai information expert, pustakawan diharapkan mampu berinteraksi dengan teknisi informasi seperti programmer dan web designer di dalam pengembanganinformasi. Dia juga harus mengenal semua aspek-aspek informasi. Akhirnya, sebagai information manager, pustakawan harus mengenal berbagai macam pengelolaan bisnis yang berhubungan dengan perpustakaan.
Pengembangan Sumberdaya Manusia yang dapat dilakukan yaitu berupa:
1.      Perlunya pendidikan bagi teknisi perpustakaan (fungsional keterampilan/asisten pustakawan), dan tenaga profesional perpustakaan (fungsional keahlian/pustakawan),
2.      Pengembangan prefesi kepustakawanan deugan menghadiri seminar, diskusi ilmiah, lokakarya, membuat karya tulis, dan sejenisnya,
3.      Pelatihan penguasaan teknologi informasi,
4.      Penambahan tenaga Pustakawan untuk meningkatkan pelayanan perpustakaan secara prima
Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa pengembangan sumber daya manusia perpustakaan sangat perlu dilakukan dengan melakukan pola pembinaan SDM yang berkelanjutan mengenai pengetahuan dan keterampilan di bidang perpustakaan dan teknologi informasi.
Sesungguhnya dunia perpustakaan sangat erat dengan bidang lain seperti informasi dan komputer, sehingga seringkali kita mendengar kedua istilah itu digabung menjadi perpustakaan dan informasi. Untuk itu, maka para pustakawan sudah saatnya untuk mengetahui bidang-bidang lain tersebut selain bidang perpustakaan. Dengan melakukan hal itu diharapkan keprofesionalisme pustakawan menjadi lebih meningkat.



BAB II
PENUTUP

Kesimpulan

Berdasarkan penjabaran diatas bahwasanya pengembangan sumber daya manusia perpustakaan sangat perlu dilakukan dengan melakukan pola pembinaan SDM yang berkelanjutan mengenai pengetahuan dan keterampilan di bidang perpustakaan dan teknologi informasi.
Sesungguhnya dunia perpustakaan sangat erat dengan bidang lain seperti informasi dan komputer, sehingga seringkali kita mendengar kedua istilah itu digabung menjadi perpustakaan dan informasi. Untuk itu, maka para pustakawan sudah saatnya untuk mengetahui bidang-bidang lain tersebut selain bidang perpustakaan. Dengan melakukan hal itu diharapkan keprofesionalisme pustakawan menjadi lebih meningkat.



Lampiran
       

  

     






 Makalah ini dapat di download 










                 
                    
      


6 komentar:

  1. terimakasih atas informasinya mengenai pengembangan sumber daya manusia di kebun raya purwodadi, pustakawan sebagi manajer informasi tentu mereka harus mengetahui bahan pustaka yang cocok di perpustakaan tersebut, menurut anda apa skil yang paling penting yang perlu dimiiki pustakawandalam pencarian bahan pustaka, terutama di perpustakaan purwodadi?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih telah mengunjungi blog ini,
      bahan pustaka yang cocok untuk perpustakaan LIPI yaitu disesuaikan dengan karakteristik dari perpustakaannya, karena perpustakaan LIPI adalah perpustakan khusus yang bergerak dibidang konservasi tumbuhan maka yang dibutuhkan adalah bahan pustaka yang berhubungan dengan tumbuhan, skill yang dibutuhkan oleh pustakawan adalah pemahaman tentang literasi dan cara memanfaatkan literasi tersebut

      Hapus
  2. Terimakasih infonya,
    Mengenai promosi tidak hanya dilakukan website dan akun sosial media sebagai sarana promosi, tetapi dapat juga melalui brosur dsb dan melakukan promosi kelembaga lain.,

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasi mbak riski atas komentarnya, memang benar maka dari itu untum meningkatkan promosi tersebut yang harus dilakukan oleh Perpustakaan LIPI adalah dengan cara efektif dan sesering mungkin untuk memberikan informasi kepada penggunanya

      Hapus
  3. thanks infonya..
    menurut pendapat anda untuk sumber daya manusia pilihan alternatif ialah pustakawan apakah pustakawan harus mempunya skill di bidang penelitian? atau mungkinkan dari seorang peneliti jadi pustakawan?

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih mbah mai telah mengunjungi blog ini, skill dibidang oenelitian sangat penting bagi pustakawan, karena pustakawan bukan hanya penyedia dan membantu peneliti tetapi pustakawan juga dituntut untuk mampu membuat penelitian agar dapat meningkatkan kinerjanya

      Hapus