KULIAH TAMU
PROGRAM STUDI D3 DAN S1 ILMU
PERPUSTAKAAN
Oleh:
Bapak
Blasius Sudarsono, MLS
Tema:
Meniti
Jalan Kepustakawanan
Malang,
20 November 2014
PUSTAKAWAN DAN KEPUSTAKAWANAN
Kepustakawanan
adalah pernyataan/ penjelmaan dari ssesuatu yang hidup didalam hati setiap
pustakawan. Maka walaupun tidak setiap pustakawan dapat menjadi ahli filsafat,
namn yang dibicarakan atau di persoalkan dalam filsafat kepustakawanan itu
memang berarti bagi semua pustakawan. Pustakawan adalah manusia, dan manusia
adalah pribadi, maka perlu juga disampaikan di sini pandangan Driyarkara
terhadap pribadi dan kepribadian. Pustakawan adalah sesuatu yang menumbuhkan
sekaligus menjadi hasil (tujuan) kesempurnaan pustakawan. Pustakawan dan
kepustakawanan adalah dua yang menyatu dan saling menguatkan.
Analogi
dengan sedikit modifikasi berikut tentunya dapat dipakai sebagai perenungan
dengan mengganti kata pribadi dengan pustakawan dan kata kepribadian dengan
kata kepustakawanan.
·
Pustakawan supaya betul-betul menjadi
Pustakawan harus menjadi dan memiliki Kepustakawanan.
·
Pustakawan yang tidak menjadi
kepustakawanan itu merupakan pustakawan yang terjerumus, Pustakawan yang tidak
setia terhadap Tuhan, terhadap masyarakat dan dirinya sendiri, Pustakawan yang
kehilangan keluhuran dan kehormatan.
·
Kepustakawanan adalah perkembangan dari
Pustakawan. Perkembangan yang betul-betul menjalankan kedaulatan dan
kekuasannya atas dirinya sendiri dan tidak dijajah oleh kenafsuan-kenafsuan,
dan dunia netral.
·
Jika ini tercapai maka Kepustakawanan
betul-betul “bersemayam” dalam dirinya sendiri.
Seperti
pribadi yang berkembangn menjadi kepribadian, maka pustakawan juga berkembang
menjadi kepustakawanan, sehingga kepustakawanan menjadi keutamaan seorang
pustakawan. Dapat dikatakan bahwa tidak semua pribadi itu memiliki kepribadian,
maka analoginya juga tidak semua pribadi itu memiliki kepustakawanan.
Sejak
akhir dasarwarsa 1990-an penulis menganut paham bahwa kepustakawanan itu pada
dasarnya adalah: 1) panggilan hidup, 2) semangat hidup, 3) pelayanan, 4) kegiatan
profesional. Dalam praktik keseharian pustakawan, maupun dalam pendidikan dan
pelatihan calon pustakawan, rasanya unsur keempat yaitu kegiatan profesional
itulah yang menjadi fokus. Usur ketiga (pelayanan) sudah mulai tidak ditekankan
lagi karena kini lebih mengenalkan bahwa pustakawan adalah mitra bagi
pemustaka. Yang jarang atau tidak dibicarakan adalah masalah panggilan hidup
dan semangat hidup. Bagian yang jarang dibicarakan itulah yang menjadi fokus
tulisan.
·
Kerangka
arsitektur kepustakawanan
·
Empat
pilar penyangga
·
Lima
daya utama
·
Tiga
sasaran antara
·
Tujuan
akhir
·
Empat
pilar penyangga
·
Kepustakawanan
adalah panggilan hidup
·
Kepustakawanan
adalah semangat hidup
·
Kepustakawanan
adalah karya pelayanan
·
Kepustakawanan
adalah profesional
·
Lima
daya utama
·
Berpikir
kritis, analitis, dan kritis
·
Berkemampuan
membaca
·
Berkemampuan
menulis
·
Berkemampuan
wira usaha
·
Menjunjung
tinggi etika
·
Tiga
sasaran antara
·
Menjadi
cerdas (bright)
·
Menjadi
kaya (rich)
·
Menjadi
benar (right)
·
Tujuan
akhir
Manusia paripurna berguna
bagi sesama
• Interaksi antara kemauan dan
kemampuan
• Kemauan dijiwai filsafat
kepustakawanan
• Kemampuan berfondasi pada
logika dokumentasi
• Interaksi keduanya akan
menghasilkan mutu pustakawan
• Logika dokumentasi
• Pada awal mula adalah
kehendak manusia untuk mengekspresikan apa yang dipikirkan dan atau
dirasakannya (1992)
• Jika ada pihak lain yang
berada pada tempat dan waktu yang sama maka ekspresi itu menjadi komunikasi.
• jika tidak ada pihak yang
menerima ekspresi itu pada saat yang sama, maka perlu upaya untuk menyimpan
sementara ekspresi itu, agar dapat disampaikan kemudian.
• Simpanan atau rekaman
sementara ini untuk waktu yang tak berhingga menjadi simpanan atau rekaman
abadi.
• Dengan kata lain penggal waktu
”sementara” itu menjadi ”tak berhingga” adalah konsep abadi.
Maka proses dokumentasi dapat
juga dikatakan sebagai proses pengabadian
• Dokumentasi adalah
• Proses siklus. Objek maya
didokumentasikan menjadi objek nyata atau digital. Objek nyata didokumentasikan
kembali sebagai dokumen nyata lain atau digital (menggunakan tik). Proses ini
berulang-ulang
• Langkah dalam penciptaan
pengetahuan dan ilmu.
• Simulasi kerja otak
• Fungsi yang harus dilakukan
oleh semua orang
• Kegiatan mengeksplisitkan
pengetahuan taksit dan mengelola pengetahuan terekam (eksplisit)
JANJI PUSTAKAWAN MUDA
INDONESIA
• Kami Calon Pustakawan dan
Pusta
• kawan Muda Indonesia, mengaku berprofesi sebagai Pustakawan Indonesia yang
adalah warga Bangsa dan Negara Indonesia.
• Kami Calon Pustakawan dan
Pustakawan Muda Indonesia, Sebagai profesional
senantiasa berusaha memahami, menghayati, dan mengembangkan Jati Diri
Pustakawan Indonesia, berkarya
bagi Bangsa dan Negara Indonesia, untuk mencapai cita-cita Bangsa
dan Negara Indonesia.
• Kami Calon Pustakawan dan
Pustakawan Muda Indonesia, Mewaspadai, menolak, dan memberantas segala hal yang merugikan bahkan dapat menghancurkan Bangsa dan Negara
Indonesia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar